Jangan
Bangga Dulu Kalau Anak mempunyai BB berlebih
Kebanyakan
orang tua merasa tenang ketika anak-anaknya tumbuh subur ‘gemuk’ begitu-pun
sebaliknya orang tua akan cemas ketika
melihat kondisi anaknya kurus. Bentuk ekspresi itu mungkin sudah umum ditemukan
di sekitar kita. Kebanyakan asumsi orang tua langsung mendefinisikan anak kurus
itu tidak sehat. Padahal keadaan kurus
sang anak bisa disebabkan karena keturunan (genetik). Apalagi sekarang pada hobby shopping di mall, jarang sekali
yang shopping-nya memilih di pasar
tradisional. Tentunya makanan yang dibeli juga ‘ala Mall.
Dilihat
dari pengamatan saya, saya sering menemukan anak-anak memakan snack instan atau
biasa dibilang “chiki”, katanya sih
“enak”, apalagi kalau ada ciri khas coklat di dalamnya.. Hmmmm, yummi.
Mendengar kata coklat saja, kita sendiri sudah membayangkan gimana enaknya
snack itu. Tapi apa kita atau orang tua anak tidak memikirkan efek samping
selanjutnya? Jika makanan tersebut di makan dalam jangka panjang.
Pangan
anak telah begitu tercemar oleh HFCS (
High Fructose Corn Syrup) dan pada pemanis tambahan khususnya pada jus
kemasan dan cemilan. Istilah asing yang tertera di kemasan, yang biasanya
tercantum di bagian komposisi membuat orang tua memilih untuk tidak mau tahu
dan ‘dianggap aman’ karena semata-mata terdapat label resmi POM atau Depkes.
Bahkan kekeliruan persepsi bahwa ‘semua lemak itu buruk’. Anak cenderung tidak
makan makanan berlemak tapi makanan kering kemasan yang isinya rata-rata gula
dan tepung, yang jstru membuat insulin anak melonjak sejak usia dini. Tubuh
terbiasa mengubah kelebihan gula darah dengan segala akibatnya.
Anak
sekarang cenderung pasif, tidak seperti anak jaman dulu yang aktif bergerak.
Alat main anak sekarang juga mempengaruhi ketidak aktifan anak apalagi ditambah
dengan makanan anak yang kurang sehat, yang kebanyakan memakan tepung dan gula.
Tingginya asupan gula dan tepung memang menjadikan anak malas bergerak, semakin
banyak lagi kalori yang ditimbun, maka semakin gemuk. Hingga masalah anak bukan
lagi sekedar kegemukan tapi juga rasa minder terhadap lingkungan di
sekelilingnya. Hal ini kan menjadikan salah satu pencetus anak tidak maju.
Apakah sebagai orangtua tega membiarkan anak tidak maju dalam segi mental
maupun pikiran??? Tentu saja tidan bukan? J dan sebagian besar pengaruh anak usia sekolah
berasal dari pergaulan (peer group). Sekolah bukan hanya sekedar mengajarkan hal-hal
yang bersifat keilmuan, tetapi juga
‘gaya hidup’.
Anak-anak
sekarang yang berada di sekolah ‘favorit’ cenderung malu ketika menunjukkan bekal
tempe atau sayur. Mereka lebih suka memamerkan gorengan sosis atau nugget padahal konsumsi makanan seperti
ini pada pemenuhan gizi anak kurang tepat. Berbagai bahan tambahan dari emulfisier hingga pengawet (gula dan
garam juga pengawet) dicampur dengan daging olahan (perhatikan! Bukan daging
utuh). Ini membuat nugget dan sosis
dikritik banyak ahli nutrisi yang berpihak pada kesehatan anak karena miskin
gizi dan resiko kanker yang mengancam.
RSS Feed
Twitter
19.16
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar