Minggu, 02 November 2014

Jangan Bangga Dulu Kalau Anak mempunyai BB berlebih
Kebanyakan orang tua merasa tenang ketika anak-anaknya tumbuh subur ‘gemuk’ begitu-pun sebaliknya  orang tua akan cemas ketika melihat kondisi anaknya kurus. Bentuk ekspresi itu mungkin sudah umum ditemukan di sekitar kita. Kebanyakan asumsi orang tua langsung mendefinisikan anak kurus itu tidak sehat. Padahal  keadaan kurus sang anak bisa disebabkan karena keturunan (genetik). Apalagi sekarang pada hobby shopping di mall, jarang sekali yang shopping-nya memilih di pasar tradisional. Tentunya makanan yang dibeli juga ‘ala Mall.
Dilihat dari pengamatan saya, saya sering menemukan anak-anak memakan snack instan atau biasa dibilang “chiki”,  katanya sih “enak”, apalagi kalau ada ciri khas coklat di dalamnya.. Hmmmm, yummi. Mendengar kata coklat saja, kita sendiri sudah membayangkan gimana enaknya snack itu. Tapi apa kita atau orang tua anak tidak memikirkan efek samping selanjutnya? Jika makanan tersebut di makan dalam jangka panjang.
Pangan anak telah begitu tercemar oleh HFCS ( High Fructose Corn Syrup) dan pada pemanis tambahan khususnya pada jus kemasan dan cemilan. Istilah asing yang tertera di kemasan, yang biasanya tercantum di bagian komposisi membuat orang tua memilih untuk tidak mau tahu dan ‘dianggap aman’ karena semata-mata terdapat label resmi POM atau Depkes. Bahkan kekeliruan persepsi bahwa ‘semua lemak itu buruk’. Anak cenderung tidak makan makanan berlemak tapi makanan kering kemasan yang isinya rata-rata gula dan tepung, yang jstru membuat insulin anak melonjak sejak usia dini. Tubuh terbiasa mengubah kelebihan gula darah dengan segala akibatnya.
Anak sekarang cenderung pasif, tidak seperti anak jaman dulu yang aktif bergerak. Alat main anak sekarang juga mempengaruhi ketidak aktifan anak apalagi ditambah dengan makanan anak yang kurang sehat, yang kebanyakan memakan tepung dan gula. Tingginya asupan gula dan tepung memang menjadikan anak malas bergerak, semakin banyak lagi kalori yang ditimbun, maka semakin gemuk. Hingga masalah anak bukan lagi sekedar kegemukan tapi juga rasa minder terhadap lingkungan di sekelilingnya. Hal ini kan menjadikan salah satu pencetus anak tidak maju. Apakah sebagai orangtua tega membiarkan anak tidak maju dalam segi mental maupun pikiran??? Tentu saja tidan bukan? J  dan sebagian besar pengaruh anak usia sekolah berasal dari pergaulan (peer group). Sekolah bukan hanya sekedar mengajarkan hal-hal yang bersifat keilmuan, tetapi juga  ‘gaya hidup’.
Anak-anak sekarang yang berada di sekolah ‘favorit’ cenderung malu ketika menunjukkan bekal tempe atau sayur. Mereka lebih suka memamerkan gorengan sosis atau nugget padahal konsumsi makanan seperti ini pada pemenuhan gizi anak kurang tepat. Berbagai bahan tambahan dari emulfisier hingga pengawet (gula dan garam juga pengawet) dicampur dengan daging olahan (perhatikan! Bukan daging utuh). Ini membuat nugget dan sosis dikritik banyak ahli nutrisi yang berpihak pada kesehatan anak karena miskin gizi dan resiko kanker yang mengancam.




0 komentar:

Posting Komentar