Selasa, 13 Oktober 2015

Selamat tahun baru Hijriyah, Kawan..
Kawan, sudah tahun baru lagi, belum tibakah saatnya kita menunduk, memandang diri sendiri , bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisabNya.
Kawan, siapakah kita ini sebenarnya? Musliminkah? Mukmininkah? Muttaqinkah? Khalifah Allaah kah? Umat Muhammadkah? Khaira ummatinkah? Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi, hanya budak-budak perut dan kelamin..
Iman kita kepada Allaah dan yang Ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan, lebih pipih dari kain rok perempuan.
Betapa pun tersiksa, kita khusyiuk di depan massa, dan tiba-tiba buas dan binal justru disaat sendiri bersamaNya..
Syahadat kita rasanya seperti perut bedug atau pernyataan setia pegawai rendahan saja. Kosong tak berdaya.
Shalat kita rasanya lebih buruk daripada senam ibu-ibu, lebih cepat daripada menghirup kopi panas, dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda (Do'a kita sesudahnya jauh lebih serius, kita memohon hidup enak di Dunia dan bahagia di Surga).
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum disaat istirahat, tanpa menggeser acara buat syahwat, ketika datang lapar atau haus.
Kita pun manggut-manggut.
O, beginikah rasanya, dan kita sudah merasa memikirkan saudara-saudara kita yang melarat.
Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilanny untuk kupon undian yang sia-sia, kalaupun terkeluarnya harapan pun tanpa ukuran, hubaya-hubaya Tuhan menggantinya berlipat ganda.
Haji kita tak ubahnya tamasya dan menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material, membuang uang kecil dan dosa besar, lalu pulang membawa label suci, asli made in Saudi Haji.
Kawan, lalu bagaimana bilamana dan berapa lama kita bersamaNya?
atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya, mensiasati dunia sebagai khalifahNya.
Kawan, tak terasa kita memang semakin pintar, mungkin kedudukan kita sebagai kholifah, mempercepat proses kematangan kita, paling tidak kita semakinn pintar berdalih.
Kita perkosa alam dan lingkungan, demi ilmu pengetahuan, kita berkelahi demi menegakkan kebenaran, melacur dan menipu demi keselamatan, memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan. Memukul dan mencaci demi pendidikan, berbuat semaunya demi kemerdekaan, tidak berbuat apa-apa demi ketentraman, membiarkan kemunkaran demi kedamaian. Pendek kata demi semua yang baik, Halallah semua sampai pun yang paling tidak baik.
Lalu bagaiamana para Cendikiawan dan Seniman?
para Mubaligh dan Kyai, penyambung lidah Nabi? Jangan ganggu mereka!
Para Cendikiawan sedang memikirkan segalanya
ParaSeniman sedang merenungkan apa saja
Para Mubaligh sedang sibuk berternak kemana-mana
Para Kyai sedang sibuk berfatwa dan berdoa
Para Pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka diatas sana, menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri.
Kawan, Selamat Tahun Baru, belum tibakah saatnya kita menunduk, memandang diri sendiri??
‪#‎Syaikhuna‬ Wa Murabbi Ruhina K.H. A. MUsthofa Bisri.

0 komentar:

Posting Komentar